Kamis, 17 Desember 2009

Ternyata...sabar itu tak ada batasnya..

Dalam banyak kesempatan, kita sering mendengar bahkan mengucapkan," Sabar itu kan ada batasnya..". Pertanyaannya adalah...siapa yang menetapkan batas, dan kalaupun ada batasnya, seberapa jauh batas sabar itu..??? Saya sendiri tak bisa menjawab pertanyaan tersebut...atau jangan-jangan kalimat tersebut hanya merupakan pembenaran dari suatu ketidak sabaran atau bahkan merupakan pemakluman dari suatu kesalahan...

Sebelum membahas lebih jauh, mungkin sebaiknya kita mendefinisikan kata sabar itu sendiri.
Ibnul Qayyim berkata: "Sabar adalah menahan jiwa dari berputus asa, meredam amarah yang bergejolak, mencegah lisan berkeluh-kesah, menahan anggota badan dari berbuat kemungkaran. Sabar merupakan akhlak mulia dari lubuk jiwa yang dapat mencegah degannya akan tegak dan baik segala perkara.."


Sabar adalah menahan jiwa dari berputus asa

Dapat kita renungkan bahwa sebetulnya kesabaran itu diperlukan pada setiap aktivitas kita...dalam keseharian kita...dalam seluruh waktu kita selama kita masih ada di dunia ini. Pada saat kita ditimpa suatu permasalahan hidup baik untuk urusan rumah tangga, pekerjaan maupun urusan dunia lainnya...bagaimana kita dapat menghadapinya dengan tidak berputus asa adalah cerminan dari sikap sabar. Jika memang sabar itu ada atau boleh ada batasnya, maka ada suatu musibah tertentu apabila sudah sedemikian hebatnya mengganggu fikiran dan kehidupan kita maka kita diperkenankan atau dimaklumi jika kita kemudian berputus asa..., apakah demikian??? Tentu bagi yang mengimani akan qodho dan qodhar..., hal tersebut sudah barang tentu tidak benar....Jadi tidak ada batas suatu masalah yang membolehkan kita berputus asa...

Meredam amarah yang bergejolak

Dalam keseharian kita, sering kali terjadi peristiwa yang membuat kita marah...marah karena dituduh sesuatu yang tidak benar, marah karena dikhianati oleh teman sendiri.., marah karena dicurigai oleh atasan...ataupun marah-marah lainnya yang disebabkan oleh perbuatan orang lain yang menurut kita sudah mendzholimi kita...dan membuat kita dimaklumi atau pantas untuk marah...?? Setelah marah...apa yang kemudian kita dapatkan...kepuasan??? tidak juga..., penghargaan?? pastinya tidak.., lalu apa?? Sesungguhnya hanya kesia-siaan yang kita dapatkan...


Islam memerintahkan kita untuk lebih banyak menahan amarah. Islam menganjurkan kita untuk saling memaafkan. Islam mengajak kita untuk menjauhi segala macam dendam dan kebencian. Bahkan lebih dari itu, Islam mengajarkan kita untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Ini adalah bukti bahwa islam adalah agama kasih sayang. Islam mengajarkan keadilan tanpa memanipulasi kebenaran dalam bentuk apa pun dan kepada siapa pun.

Al Imam Ahmad dan Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan hadits dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri duduklah, jika belum hilang maka berbaringlah.”

Dari hadits tersebut, dapat dikatakan bahwa sabar untuk menahan amarah diperintahkan dalam Islam...jadi tidak ada batas kesabaran untuk menahan amarah


Jadi...ternyata sabar itu tidak ada batasnya..., bukan hal yang mudah..., namun kita harus terus berusaha untuk mengamalkan sabar dalam keseharian kita...sabar dalam menghadapi semua cobaan.., sabar menghadapi pekerjaan yang tak kunjung selesai...sabar dalam menghadapi atasan, rekan kerja, suami, anak-anak , ataupun semua yang berhubungan dengan kita...Semoga Allah SWT memberi kemudahan bagi kita untuk senantiasa bersabar....Amiin Ya Allah.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar