Kenapa hati?? karena nggak tau kenapa saat ini hati saya lagi seneeeng banget......, kalau ditanya kenapa??? nggak bisa secara langsung dan jelas bisa menjawabnya. Saya jadi coba menganalisa...apa yang membuat hati saya senang?? dan kemudian saya coba flash back ke belakang...dan akhirnya saya menemukan jawabannya.
Ternyata, yang membuat saya senang, nggak ada kaitannya dengan uang dan segala hal yang terkait dengan materi... tapi yang paling berperan adalah atmosfer tempat kita berada. Saat suasana rumah....suasana kerja mendukung semua aktivitas kita....semua rasanya jadi lega n tenang. ....
Saat kita mempunyai satu visi yang sama-sama kita raih...saat rekan-rekan kerja mendukung untuk mencapainya.......semua nggak ada yang nggak mungkin, kita dapat menikmati mulai dari prosesnya...sampai kemudian mudah-mudahan Allah SWT memberikan kuasanya untuk memberikan hasil seperti yang kita inginkan...semoga.......
Thanks buat my family yang selalu men-support ku........makasih juga buat my bos yang senantiasa mempercayaiku n temen-temen kerja yang seia sekata dalam melaksanakan tugas ........Alhamdulillah
Minggu, 13 Juni 2010
Minggu, 24 Januari 2010
Bisa kah kita seperti tukang parkir???
Cerita ini saya dapatkan dari sepupu saya yang terkena tsunami di Aceh beberapa waktu lalu. Bencana itu betul-betul menjadi ujian baginya. Saat itu Ia harus kehilangan Ibunda, suami dan anak-anak. Sungguh suatu musibah yang tak khan sanggup kita untuk membayangkan jika hal tersebut terjadi pada kita.
Pada saat kejadian mbak Erna, demikian sepupu saya biasa dipanggil.., sedang berada di kantor yang cukup jauh dari rumah. Sementara suaminya langsung menjemput ibunda dan anak-anak untuk menyelamatkan diri...namun Allah berkehendak lain...mobil yang ditumpangi mereka akhirnya terjebak dalam dahsyatnya air bah yang datang.
Pada saat itu mbak Erna sangat terpukul.., rasanya tak henti-hentinya Ia berfikir mengapa Allah menimpakan ujian yang sangat berat ini. Upaya keluarga, sahabat dan rekan-rekan tak ada yang mampu menhibur hatinya. yang ada adalah kemarahan atas beratnya cobaan ini.
Hingga suatu hari salah satu pimpinan di mana Ia bekerja, memanggilnya untuk menghadap. Pada saat awal bertemu, pertanyaan pertama yang diajukan adalah," Ibu Erna, datang kesini tadi naik apa?. Dengan setengah bingung Mbak Erna pun menjawab. "Dengan mobil Pak... Kemudian pimpinan tersebut bertanya lagi ,"Terus mobilnya disimpan dimana?. Dengan kebingungan yang makin bertambah mbak Erna pun menjawab," Di tempat parkir Pak.... Setelah itu Bapak itu berkata, "Ooo begitu..., nanti kalau pulang naik apa??. Dengan sedikit kesal Mbak Erna pun menjawab."Dengan mobil khan Pak...Bapak itu tersenyum kemudian berkata. "Kalau Bu Erna mengambil mobil yang tadi di parkir, tukang parkirnya akan marah tidak??. "Tentu saja tidak Pak...khan itu mobil saya....
Bapak itu terdiam sejenak...sambil menatap mata saya dalam-dalam, kemudian beliau berkata." Kalau tukang parkir saya tidak marah saat kita mengambil mobilnya, kenapa kita harus marah saat Allah SWT mengambil keluarga kita??? Padahal jelas-jelas bahwa orangtua, suami dan anak-anak hanyalah titipan..semuanya milik Allah...Kalau memang Allah berkenan untuk mengambilnya kembali mengapa kita harus marah...bukankah harusnya kita bersyukur bahwa kita sempat mempunyai orangtua, suami dan anak-anak kita.....Bersikaplah seperti tukang parkir yang dengan rela menyerahkan sesuatu yang akan diambil oleh pemiliknya.....
Seperti ada sesuatu yang menghantam dadanya..mbak Erna pun tersentak..air mata pun dengan deras mengalir di pipinya....analog sederhana tersebut mampu membuatnya sadar bahwa semua kehendak Allah. Inilah saat Allah SWT ingin memanggil kembali apa yang dimilikiNya....
Ya Allah Ya Robb..berikanlah tempat yang mulia buat ibunda, suami dan anak-anak tercinta dari mbak Erna...dan berikanlah senantiasa ketabahan bagi yang ditinggalkannya...Amin Ya Robb...
Pada saat kejadian mbak Erna, demikian sepupu saya biasa dipanggil.., sedang berada di kantor yang cukup jauh dari rumah. Sementara suaminya langsung menjemput ibunda dan anak-anak untuk menyelamatkan diri...namun Allah berkehendak lain...mobil yang ditumpangi mereka akhirnya terjebak dalam dahsyatnya air bah yang datang.
Pada saat itu mbak Erna sangat terpukul.., rasanya tak henti-hentinya Ia berfikir mengapa Allah menimpakan ujian yang sangat berat ini. Upaya keluarga, sahabat dan rekan-rekan tak ada yang mampu menhibur hatinya. yang ada adalah kemarahan atas beratnya cobaan ini.
Hingga suatu hari salah satu pimpinan di mana Ia bekerja, memanggilnya untuk menghadap. Pada saat awal bertemu, pertanyaan pertama yang diajukan adalah," Ibu Erna, datang kesini tadi naik apa?. Dengan setengah bingung Mbak Erna pun menjawab. "Dengan mobil Pak... Kemudian pimpinan tersebut bertanya lagi ,"Terus mobilnya disimpan dimana?. Dengan kebingungan yang makin bertambah mbak Erna pun menjawab," Di tempat parkir Pak.... Setelah itu Bapak itu berkata, "Ooo begitu..., nanti kalau pulang naik apa??. Dengan sedikit kesal Mbak Erna pun menjawab."Dengan mobil khan Pak...Bapak itu tersenyum kemudian berkata. "Kalau Bu Erna mengambil mobil yang tadi di parkir, tukang parkirnya akan marah tidak??. "Tentu saja tidak Pak...khan itu mobil saya....
Bapak itu terdiam sejenak...sambil menatap mata saya dalam-dalam, kemudian beliau berkata." Kalau tukang parkir saya tidak marah saat kita mengambil mobilnya, kenapa kita harus marah saat Allah SWT mengambil keluarga kita??? Padahal jelas-jelas bahwa orangtua, suami dan anak-anak hanyalah titipan..semuanya milik Allah...Kalau memang Allah berkenan untuk mengambilnya kembali mengapa kita harus marah...bukankah harusnya kita bersyukur bahwa kita sempat mempunyai orangtua, suami dan anak-anak kita.....Bersikaplah seperti tukang parkir yang dengan rela menyerahkan sesuatu yang akan diambil oleh pemiliknya.....
Seperti ada sesuatu yang menghantam dadanya..mbak Erna pun tersentak..air mata pun dengan deras mengalir di pipinya....analog sederhana tersebut mampu membuatnya sadar bahwa semua kehendak Allah. Inilah saat Allah SWT ingin memanggil kembali apa yang dimilikiNya....
Ya Allah Ya Robb..berikanlah tempat yang mulia buat ibunda, suami dan anak-anak tercinta dari mbak Erna...dan berikanlah senantiasa ketabahan bagi yang ditinggalkannya...Amin Ya Robb...
Ketenangan diri....
Saat ini aku merenung...ku teringat peristiwa-peristiwa yang terjadi di hari lalu....suka...duka...tangis...tawa...semua dipergilirkan. Kita tak pernah tau apa yang akan terjadi kemudian. Masalah demi masalah datang, namun entah mengapa tak banyak yang sempat untuk merenungkan...ada apa dibalik masalah itu. Dalam hidup akan ada ujian, cobaan, peringatan yang diberikan Sang Maha Kuasa bagi kita....Tapi, pernahkah kita mensyukurinya..???
Yang ada malahan keluhan, tangisan bahkan umpatan yang tanpa sadar kita lontarkan..., padahal kalau kita telusuri pasti akan ada hikmah dibalik sesuatu yang kita hadapi....
Kita sering kali mendengar tentang orang yang stres, depresi, bahkan mengalami gangguan kejiwaan yang lebih parah karena menghadapi suatu masalah... Semakin hari dunia kita memang penuh dengan berbagai hal yang tidak sesuai dengan aturan-Nya, dan ini akan berdampak pada karakteristik dari penghuni-penghuni dunia itu sendiri. Dalam pergaulan pekerjaan, lingkungan sekolah, lingkungan rumah atau bahkan dalam keluarga kita sendiri kadang kita dihadapkan pada permasalahan yang datang dari orang lain. Allah SWT menciptakan manusia dengan berbagai karakter.. .dan tidak semuanya berkarakter baik. Pada saat ada permasalahan yang menyangkut orang lain kadang sering mengganggu pemikiran kita. Semua ucapan dan anggapan orang lain semua kita telan tanpa lebih dahulu kita cerna. Kita selalu berkeinginan agar semua orang menyukai kita...semua orang mendukung usulan kita....semua orang manut pada keputusan kita...namun kita lupa bahwa kita sendiri adalah seorang manusia yang penuh dengan kekurangan, kekhilafan dan kesalahan. Jadi pada saat ada orang yang menentang kita, kita jadi meradang dan berusaha membalas apa yang dilakukannya pada kita...and what next? hati kita jadi tenang kah? jawabannya adalah sama sekali tidak....., yang tersisa hanya kedengkian, kesakitan dan keresahan yang tak kunjung mereda...
Point yang saya ingin katakan adalah bahwa hanya dengan dekat dengan Allah kita dapat menghadapi apapun dengan sikap yang tenang...
Setiap apapun yang terjadi kita kembalikan pada Allah...saat ada yang mendzolimi kita...kita akan berfikir bahwa itu adalah skenario Allah yang menginginkan kita untuk dapat lebih bersabar...dan bahkan kita jadi mendoakan orang yang mendzolimi kita agar diberikan kesadaran...
Saat ada masalah kita akan terus berdoa pada Allah agar diberikan kekuatan dan diberikan jalan untuk mengatasi masalah itu....jadi tak ada waktu bagi kita untuk memikirkan hal-hal yang membuat kita jadi stres akan masalah tersebut.....
So....tetaplah berusaha untuk terus mendekatkan diri pada Allah SWT, agar hidup kita menjadi tenang......yakinlah bawa ketenangan hanya dan jika hanya kita dekat pada Allah SWT, Sang maha Kuasa, sang Maha Menentukan, sang Maha Mengampuni..... ( sungguh..., nasihat ini terutama saat ini saya tujukan pada diri saya sendiri agar dapat bisa konsisten pada apa yang telah saya yakini...... ). ya Allah janganlah Kau palingkan hati kami setelah Engkau beri kami petunjuk, peliharalah kami, sayangilah kami seperti Kau menyayangi orang-orang yang sholeh....amin Ya Robb.....
Yang ada malahan keluhan, tangisan bahkan umpatan yang tanpa sadar kita lontarkan..., padahal kalau kita telusuri pasti akan ada hikmah dibalik sesuatu yang kita hadapi....
Kita sering kali mendengar tentang orang yang stres, depresi, bahkan mengalami gangguan kejiwaan yang lebih parah karena menghadapi suatu masalah... Semakin hari dunia kita memang penuh dengan berbagai hal yang tidak sesuai dengan aturan-Nya, dan ini akan berdampak pada karakteristik dari penghuni-penghuni dunia itu sendiri. Dalam pergaulan pekerjaan, lingkungan sekolah, lingkungan rumah atau bahkan dalam keluarga kita sendiri kadang kita dihadapkan pada permasalahan yang datang dari orang lain. Allah SWT menciptakan manusia dengan berbagai karakter.. .dan tidak semuanya berkarakter baik. Pada saat ada permasalahan yang menyangkut orang lain kadang sering mengganggu pemikiran kita. Semua ucapan dan anggapan orang lain semua kita telan tanpa lebih dahulu kita cerna. Kita selalu berkeinginan agar semua orang menyukai kita...semua orang mendukung usulan kita....semua orang manut pada keputusan kita...namun kita lupa bahwa kita sendiri adalah seorang manusia yang penuh dengan kekurangan, kekhilafan dan kesalahan. Jadi pada saat ada orang yang menentang kita, kita jadi meradang dan berusaha membalas apa yang dilakukannya pada kita...and what next? hati kita jadi tenang kah? jawabannya adalah sama sekali tidak....., yang tersisa hanya kedengkian, kesakitan dan keresahan yang tak kunjung mereda...
Point yang saya ingin katakan adalah bahwa hanya dengan dekat dengan Allah kita dapat menghadapi apapun dengan sikap yang tenang...
Setiap apapun yang terjadi kita kembalikan pada Allah...saat ada yang mendzolimi kita...kita akan berfikir bahwa itu adalah skenario Allah yang menginginkan kita untuk dapat lebih bersabar...dan bahkan kita jadi mendoakan orang yang mendzolimi kita agar diberikan kesadaran...
Saat ada masalah kita akan terus berdoa pada Allah agar diberikan kekuatan dan diberikan jalan untuk mengatasi masalah itu....jadi tak ada waktu bagi kita untuk memikirkan hal-hal yang membuat kita jadi stres akan masalah tersebut.....
So....tetaplah berusaha untuk terus mendekatkan diri pada Allah SWT, agar hidup kita menjadi tenang......yakinlah bawa ketenangan hanya dan jika hanya kita dekat pada Allah SWT, Sang maha Kuasa, sang Maha Menentukan, sang Maha Mengampuni..... ( sungguh..., nasihat ini terutama saat ini saya tujukan pada diri saya sendiri agar dapat bisa konsisten pada apa yang telah saya yakini...... ). ya Allah janganlah Kau palingkan hati kami setelah Engkau beri kami petunjuk, peliharalah kami, sayangilah kami seperti Kau menyayangi orang-orang yang sholeh....amin Ya Robb.....
Senin, 28 Desember 2009
How to manage our time???
Salah satu problema bagi wanita bekerja adalah bagaimana sich ngatur waktu biar everybody happy??? Sering kali dalam satu waktu kita harus menyelesaikan beberapa permasalahan secara bersamaan. Maunya sich ngeliat senyum suami karena semua kewajiban terpenuhi dengan baik...pengennya sich ngeliat celoteh anak-anak yang senang karena semua aktivitasnya dapat kita temani....inginnya sich melaksanakan semua yang diinstruksikan pimpinan karena pekerjaan kita sesuai yang diharapkan...pengen banget nemenin orang tua check up ke dokter...tapiiiii.....mustahil rasanya melaksanakan semua keinginan tersebut secara bersamaan..... Akhirnya semua serba nggak jelas...bingung mana yang harus didahulukan...saking bingungnya...akhirnya cuma bisa ngerjain semuanya dengan setengah-setengah......
Saya jadi introspeksi diri..mungkin aktivitas saya yang harus dibatasi...tapi....how can???
Alhamdulillah Allah sudah menganugerahi saya seorang suami yang luar biasa sabar dan anak-anak yang penuh pengertian...... Tak banyak keluhan memang...namun dengan segala pengertian dan pemakluman tadi kadang membuat saya jadi feeling guilty....., pekerjaan juga sudah merupakan bagian dari hidup saya..terlebih dukungan penuh dari suami membuat saya lebih bersemangat. Aktivitas mengajar seminggu sekali sungguh sangat saya nikmati...rasanya bahagia banget bisa menyampaikan ilmu buat orang lain.... Kemudian keputusan bersama kami (saya dan suami) agar saya melanjutkan study juga sangat menyita waktu....(tidak ada acara keluarga untuk hari sabtu karena full day kuliah)...Trus mana yang harus saya batasi.....
Belum lagi kewajiban saya sebagai seorang anak, menantu, tetangga....Duuhhhh...semakin difikirin semakin ngerasa salah...akhirnya semua jadi harus maklum dengan kesibukan saya...
Can somebody help me????I wanna be a perfect one....and I'll do my best for all....
Saya jadi introspeksi diri..mungkin aktivitas saya yang harus dibatasi...tapi....how can???
Alhamdulillah Allah sudah menganugerahi saya seorang suami yang luar biasa sabar dan anak-anak yang penuh pengertian...... Tak banyak keluhan memang...namun dengan segala pengertian dan pemakluman tadi kadang membuat saya jadi feeling guilty....., pekerjaan juga sudah merupakan bagian dari hidup saya..terlebih dukungan penuh dari suami membuat saya lebih bersemangat. Aktivitas mengajar seminggu sekali sungguh sangat saya nikmati...rasanya bahagia banget bisa menyampaikan ilmu buat orang lain.... Kemudian keputusan bersama kami (saya dan suami) agar saya melanjutkan study juga sangat menyita waktu....(tidak ada acara keluarga untuk hari sabtu karena full day kuliah)...Trus mana yang harus saya batasi.....
Belum lagi kewajiban saya sebagai seorang anak, menantu, tetangga....Duuhhhh...semakin difikirin semakin ngerasa salah...akhirnya semua jadi harus maklum dengan kesibukan saya...
Can somebody help me????I wanna be a perfect one....and I'll do my best for all....
Sabtu, 26 Desember 2009
The true friendship is never ending
Bermula dari pertemanan, teman yang terjalin karena pekerjaan, sekolah, pengajian, seperjalanan atau apapun, yang pasti ada satu aktivitas yang membuat kita mempunyai satu tujuan yang sama.
Diantara pertemanan tadi terseleksilah kemudian beberapa sahabat....Tak banyak memang..karena ternyata tak mudah untuk mendapatkan seorang sahabat....
Sahabat tidak dapat kita ukur dari statusnya..., usianya, pendidikannya, penampilannya atau apapun yang terlihat tampak luarnya...Tak peduli dari mana pun dia datang..namun yang terlihat adalah ketulusan...tulus untuk saling berbagi.....
Sahabat adalah seseorang yang menemani kita tidak hanya saat senang...tapi juga saat kita merasa menjadi orang yang paling malang sedunia..., Seorang sahabat akan terlihat dari sorot matanya yang memancarkan empati saat kita sedang bermasalah..., seorang sahabat adalah yang mau berkorban saat kita betul-betul membutuhkan kehadirannya...., seorang sahabat tak khan segan-segan menegur kita apabila ada hal yang salah dalam hidup kita....
Pada para sahabat, kita tak segan-segan untuk mengambil resiko atas kebahagiaannya...pada para sahabat kita tak pernah kehabisan kata-kata untuk menghiburnya...dan pada para sahabat tak lupa kita panjatkan doa-doa untuk kebahagiannya...
Semoga persahabatan yang terjalin senantiasa didasarkan atas ridho Allah SWT...semoga kebahagiaan akan selalu menemani hari-hari kita dan semoga kita dapat kembali bertemu di surga-Nya, amin Ya Allah Ya Robbal Alamiin....
Thanks for being my true friendship....
Diantara pertemanan tadi terseleksilah kemudian beberapa sahabat....Tak banyak memang..karena ternyata tak mudah untuk mendapatkan seorang sahabat....
Sahabat tidak dapat kita ukur dari statusnya..., usianya, pendidikannya, penampilannya atau apapun yang terlihat tampak luarnya...Tak peduli dari mana pun dia datang..namun yang terlihat adalah ketulusan...tulus untuk saling berbagi.....
Sahabat adalah seseorang yang menemani kita tidak hanya saat senang...tapi juga saat kita merasa menjadi orang yang paling malang sedunia..., Seorang sahabat akan terlihat dari sorot matanya yang memancarkan empati saat kita sedang bermasalah..., seorang sahabat adalah yang mau berkorban saat kita betul-betul membutuhkan kehadirannya...., seorang sahabat tak khan segan-segan menegur kita apabila ada hal yang salah dalam hidup kita....
Pada para sahabat, kita tak segan-segan untuk mengambil resiko atas kebahagiaannya...pada para sahabat kita tak pernah kehabisan kata-kata untuk menghiburnya...dan pada para sahabat tak lupa kita panjatkan doa-doa untuk kebahagiannya...
Semoga persahabatan yang terjalin senantiasa didasarkan atas ridho Allah SWT...semoga kebahagiaan akan selalu menemani hari-hari kita dan semoga kita dapat kembali bertemu di surga-Nya, amin Ya Allah Ya Robbal Alamiin....
Thanks for being my true friendship....
Kamis, 17 Desember 2009
Ternyata...sabar itu tak ada batasnya..
Dalam banyak kesempatan, kita sering mendengar bahkan mengucapkan," Sabar itu kan ada batasnya..". Pertanyaannya adalah...siapa yang menetapkan batas, dan kalaupun ada batasnya, seberapa jauh batas sabar itu..??? Saya sendiri tak bisa menjawab pertanyaan tersebut...atau jangan-jangan kalimat tersebut hanya merupakan pembenaran dari suatu ketidak sabaran atau bahkan merupakan pemakluman dari suatu kesalahan...
Sebelum membahas lebih jauh, mungkin sebaiknya kita mendefinisikan kata sabar itu sendiri.
Ibnul Qayyim berkata: "Sabar adalah menahan jiwa dari berputus asa, meredam amarah yang bergejolak, mencegah lisan berkeluh-kesah, menahan anggota badan dari berbuat kemungkaran. Sabar merupakan akhlak mulia dari lubuk jiwa yang dapat mencegah degannya akan tegak dan baik segala perkara.."
Sabar adalah menahan jiwa dari berputus asa
Dapat kita renungkan bahwa sebetulnya kesabaran itu diperlukan pada setiap aktivitas kita...dalam keseharian kita...dalam seluruh waktu kita selama kita masih ada di dunia ini. Pada saat kita ditimpa suatu permasalahan hidup baik untuk urusan rumah tangga, pekerjaan maupun urusan dunia lainnya...bagaimana kita dapat menghadapinya dengan tidak berputus asa adalah cerminan dari sikap sabar. Jika memang sabar itu ada atau boleh ada batasnya, maka ada suatu musibah tertentu apabila sudah sedemikian hebatnya mengganggu fikiran dan kehidupan kita maka kita diperkenankan atau dimaklumi jika kita kemudian berputus asa..., apakah demikian??? Tentu bagi yang mengimani akan qodho dan qodhar..., hal tersebut sudah barang tentu tidak benar....Jadi tidak ada batas suatu masalah yang membolehkan kita berputus asa...
Meredam amarah yang bergejolak
Dalam keseharian kita, sering kali terjadi peristiwa yang membuat kita marah...marah karena dituduh sesuatu yang tidak benar, marah karena dikhianati oleh teman sendiri.., marah karena dicurigai oleh atasan...ataupun marah-marah lainnya yang disebabkan oleh perbuatan orang lain yang menurut kita sudah mendzholimi kita...dan membuat kita dimaklumi atau pantas untuk marah...?? Setelah marah...apa yang kemudian kita dapatkan...kepuasan??? tidak juga..., penghargaan?? pastinya tidak.., lalu apa?? Sesungguhnya hanya kesia-siaan yang kita dapatkan...
Islam memerintahkan kita untuk lebih banyak menahan amarah. Islam menganjurkan kita untuk saling memaafkan. Islam mengajak kita untuk menjauhi segala macam dendam dan kebencian. Bahkan lebih dari itu, Islam mengajarkan kita untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Ini adalah bukti bahwa islam adalah agama kasih sayang. Islam mengajarkan keadilan tanpa memanipulasi kebenaran dalam bentuk apa pun dan kepada siapa pun.
Al Imam Ahmad dan Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan hadits dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri duduklah, jika belum hilang maka berbaringlah.”
Dari hadits tersebut, dapat dikatakan bahwa sabar untuk menahan amarah diperintahkan dalam Islam...jadi tidak ada batas kesabaran untuk menahan amarah
Jadi...ternyata sabar itu tidak ada batasnya..., bukan hal yang mudah..., namun kita harus terus berusaha untuk mengamalkan sabar dalam keseharian kita...sabar dalam menghadapi semua cobaan.., sabar menghadapi pekerjaan yang tak kunjung selesai...sabar dalam menghadapi atasan, rekan kerja, suami, anak-anak , ataupun semua yang berhubungan dengan kita...Semoga Allah SWT memberi kemudahan bagi kita untuk senantiasa bersabar....Amiin Ya Allah.....
Sebelum membahas lebih jauh, mungkin sebaiknya kita mendefinisikan kata sabar itu sendiri.
Ibnul Qayyim berkata: "Sabar adalah menahan jiwa dari berputus asa, meredam amarah yang bergejolak, mencegah lisan berkeluh-kesah, menahan anggota badan dari berbuat kemungkaran. Sabar merupakan akhlak mulia dari lubuk jiwa yang dapat mencegah degannya akan tegak dan baik segala perkara.."
Sabar adalah menahan jiwa dari berputus asa
Dapat kita renungkan bahwa sebetulnya kesabaran itu diperlukan pada setiap aktivitas kita...dalam keseharian kita...dalam seluruh waktu kita selama kita masih ada di dunia ini. Pada saat kita ditimpa suatu permasalahan hidup baik untuk urusan rumah tangga, pekerjaan maupun urusan dunia lainnya...bagaimana kita dapat menghadapinya dengan tidak berputus asa adalah cerminan dari sikap sabar. Jika memang sabar itu ada atau boleh ada batasnya, maka ada suatu musibah tertentu apabila sudah sedemikian hebatnya mengganggu fikiran dan kehidupan kita maka kita diperkenankan atau dimaklumi jika kita kemudian berputus asa..., apakah demikian??? Tentu bagi yang mengimani akan qodho dan qodhar..., hal tersebut sudah barang tentu tidak benar....Jadi tidak ada batas suatu masalah yang membolehkan kita berputus asa...
Meredam amarah yang bergejolak
Dalam keseharian kita, sering kali terjadi peristiwa yang membuat kita marah...marah karena dituduh sesuatu yang tidak benar, marah karena dikhianati oleh teman sendiri.., marah karena dicurigai oleh atasan...ataupun marah-marah lainnya yang disebabkan oleh perbuatan orang lain yang menurut kita sudah mendzholimi kita...dan membuat kita dimaklumi atau pantas untuk marah...?? Setelah marah...apa yang kemudian kita dapatkan...kepuasan??? tidak juga..., penghargaan?? pastinya tidak.., lalu apa?? Sesungguhnya hanya kesia-siaan yang kita dapatkan...
Islam memerintahkan kita untuk lebih banyak menahan amarah. Islam menganjurkan kita untuk saling memaafkan. Islam mengajak kita untuk menjauhi segala macam dendam dan kebencian. Bahkan lebih dari itu, Islam mengajarkan kita untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Ini adalah bukti bahwa islam adalah agama kasih sayang. Islam mengajarkan keadilan tanpa memanipulasi kebenaran dalam bentuk apa pun dan kepada siapa pun.
Al Imam Ahmad dan Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan hadits dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri duduklah, jika belum hilang maka berbaringlah.”
Dari hadits tersebut, dapat dikatakan bahwa sabar untuk menahan amarah diperintahkan dalam Islam...jadi tidak ada batas kesabaran untuk menahan amarah
Jadi...ternyata sabar itu tidak ada batasnya..., bukan hal yang mudah..., namun kita harus terus berusaha untuk mengamalkan sabar dalam keseharian kita...sabar dalam menghadapi semua cobaan.., sabar menghadapi pekerjaan yang tak kunjung selesai...sabar dalam menghadapi atasan, rekan kerja, suami, anak-anak , ataupun semua yang berhubungan dengan kita...Semoga Allah SWT memberi kemudahan bagi kita untuk senantiasa bersabar....Amiin Ya Allah.....
Kamis, 08 Oktober 2009
TAQDIR
Jika kita mendengar kata taqdir..apa yang ada dalam benak kita?..taqdir adalah sesuatu yang harus kita terima..iman kepada taqdir adalah rukun ima yang ke-6...apakah hanya itu ???
Setelah sekian lama...setelah mengalami berbagai peristiwa hidup..Alhamdulillah Allah SWT telah membukakan hati saya untuk dapat mengerti dan mengimani kata taqdir tersebut.....
Pada mulanya, seringkali dalam setiap peristiwa terutama peristiwa yang tidak saya harapkan..selalu saja ada fihak yang selalu terkesan menjadi penyebab peristiwa yang tak diharapkan tersebut terjadi...entah itu karena orang lain maupun karena kebodohan dan keteledoran saya sendiri...namun ada satu peristiwa yang kemudian menyadarkan saya...sehingga akhirnya saya menyadari bahwa sekeras apapun usaha kita...kalau Allah tidak menghendaki itu tidak akan terjadi....
Saya pernah berdiskusi dengan seorang teman tentang permasalahan taqdir ini, dia mengungkapkan bahwa jika semua sudah ditentukan oleh Allah, berarti kita hanya wayang saja yang tidak punya kemampuan untuk menentukan sesuatu..karena pengetahuan agama saya yang sangat terbatas saya belum berhasil meyakinkan teman saya tersebut tentang makna sebuah taqdir...kemudian dari suatu buku yang saya baca ada kisah yang menarik tentang cara kita menyikapi taqdir tersebut...yakni kisah tentang Khalifah Umar bin Khatab. Dalam perjalanan ke sebuah daerah, Umar bin Khatab memilih jalur memutar demi menghindari dari penyakit yang sedang mewabah di daerah yang biasa dilewati. Beliau ditegur oleh Abu Ubaidah bin Jarah , "Mengapa anda lari dari taqdir Allah?", Umar menjawab,"Betul, saya memang lari dari taqdir Allah, tetapi untuk pergi ke taqdir Allah pula." Jadi sebetulnya ketika upaya dan usaha sudah dilakukan secara maksimal, pasrahkan sepenuhnya kepada Allah untuk bisa tercipta taqdir yang terbaik. Pengertian taqdir baik adalah perbuatan yang dilakukan dengan proses demi proses yang benar, kemudian menerima dengan ikhlas apapun hasilnya....
Setelah sekian lama...setelah mengalami berbagai peristiwa hidup..Alhamdulillah Allah SWT telah membukakan hati saya untuk dapat mengerti dan mengimani kata taqdir tersebut.....
Pada mulanya, seringkali dalam setiap peristiwa terutama peristiwa yang tidak saya harapkan..selalu saja ada fihak yang selalu terkesan menjadi penyebab peristiwa yang tak diharapkan tersebut terjadi...entah itu karena orang lain maupun karena kebodohan dan keteledoran saya sendiri...namun ada satu peristiwa yang kemudian menyadarkan saya...sehingga akhirnya saya menyadari bahwa sekeras apapun usaha kita...kalau Allah tidak menghendaki itu tidak akan terjadi....
Saya pernah berdiskusi dengan seorang teman tentang permasalahan taqdir ini, dia mengungkapkan bahwa jika semua sudah ditentukan oleh Allah, berarti kita hanya wayang saja yang tidak punya kemampuan untuk menentukan sesuatu..karena pengetahuan agama saya yang sangat terbatas saya belum berhasil meyakinkan teman saya tersebut tentang makna sebuah taqdir...kemudian dari suatu buku yang saya baca ada kisah yang menarik tentang cara kita menyikapi taqdir tersebut...yakni kisah tentang Khalifah Umar bin Khatab. Dalam perjalanan ke sebuah daerah, Umar bin Khatab memilih jalur memutar demi menghindari dari penyakit yang sedang mewabah di daerah yang biasa dilewati. Beliau ditegur oleh Abu Ubaidah bin Jarah , "Mengapa anda lari dari taqdir Allah?", Umar menjawab,"Betul, saya memang lari dari taqdir Allah, tetapi untuk pergi ke taqdir Allah pula." Jadi sebetulnya ketika upaya dan usaha sudah dilakukan secara maksimal, pasrahkan sepenuhnya kepada Allah untuk bisa tercipta taqdir yang terbaik. Pengertian taqdir baik adalah perbuatan yang dilakukan dengan proses demi proses yang benar, kemudian menerima dengan ikhlas apapun hasilnya....
It's time to change...
Saat saya membuat tulisan ini, surat kabar masih ramai membicarakan gempa di Sumatra dengan kekuatan 7,6 scala richter..televisi terus menerus meliput tentang upaya evakuasi korban yang masih tertimbun di hotel ambacang dan beberapa desa di Kabupaten Padang Pariaman masih tertimbun tanah...
Sementara kita hanya melihat...menonton dan sesekali mengungkapkan rasa iba dan kasihan terhadap korban bencana tersebut..
Apa itu cukup??? Apa sebenarnya yang ingin Allah SWT, Tuhan penguasa semesta alam ini sampaikan pada kita....
Para ahli baik ahli geologi, lingkungan maupun ahli-ahli lainnya mulai memberikan statement mengenai terjadinya gempa di Sumatra ini...mulai dari posisi Indonesia yang masuk dalam daerah ring of the fire yakni rangkaian gunung api yang membentuk seperti cincin penyebab terjadinya gempa yang berturutan...sampai pada kemungkinan gempa yang lebih besar yang akan datang ke Indonesia dengan waktu yang tidak bisa dipastikan....
Saya mulai berfikir...dan merenung....dan saya yakini bahwa ada yang ingin Allah sampaikan melalui bencana ini..., Ustadz Arifin Ilham menyampaikan di satu televisi swasta bahwa waktu terjadinya gempa pada pukul 17.16, jika kita kaitkan dalam surat di Al-quran adalah surat Al-Isro ayat 16, adalah :' Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya...
Astaghfirullahal 'adzim...aiar mata perlahan menetes di pipi saya, mengingat dosa dan kesalahan yang telah saya lakukan..., dan kemudian saya menjadi sangat bersyukur bahwa Allah telah membukakan hati saya dari bencana ini...karena sampai detik in saya masih diberikan oksigen untuk bernafas...dan saya masih diberi waktu oleh-Nya untuk dapat memperbaiki diri...
It's time to change...Inilah saatnya saya untuk berubah....telah banyak kesia-siaan yang telah hamba lakukan...., kita tak pernah tahu kapan Allah akan memanggil kita...beribu cara bahkan berjuta cara kemungkinan penyebabnya....bekal apa yang sudah kita persiapkan....???
Ya Allah Ya Robb...tiada daya dan upaya yang dapat hamba lakukan tanpa Kuasa-Mu...tak ada kemampuan yang dapat hamba lakukan tanpa ridho-Mu...Bimbinglah hamba menuju-Mu...ringankanlah langkah hamba untuk beribadah pada-Mu..Jauhkanlah hamba dari segala yang engkau murkai...amin ya Allah ya Robball 'Alamiin....
Sementara kita hanya melihat...menonton dan sesekali mengungkapkan rasa iba dan kasihan terhadap korban bencana tersebut..
Apa itu cukup??? Apa sebenarnya yang ingin Allah SWT, Tuhan penguasa semesta alam ini sampaikan pada kita....
Para ahli baik ahli geologi, lingkungan maupun ahli-ahli lainnya mulai memberikan statement mengenai terjadinya gempa di Sumatra ini...mulai dari posisi Indonesia yang masuk dalam daerah ring of the fire yakni rangkaian gunung api yang membentuk seperti cincin penyebab terjadinya gempa yang berturutan...sampai pada kemungkinan gempa yang lebih besar yang akan datang ke Indonesia dengan waktu yang tidak bisa dipastikan....
Saya mulai berfikir...dan merenung....dan saya yakini bahwa ada yang ingin Allah sampaikan melalui bencana ini..., Ustadz Arifin Ilham menyampaikan di satu televisi swasta bahwa waktu terjadinya gempa pada pukul 17.16, jika kita kaitkan dalam surat di Al-quran adalah surat Al-Isro ayat 16, adalah :' Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya...
Astaghfirullahal 'adzim...aiar mata perlahan menetes di pipi saya, mengingat dosa dan kesalahan yang telah saya lakukan..., dan kemudian saya menjadi sangat bersyukur bahwa Allah telah membukakan hati saya dari bencana ini...karena sampai detik in saya masih diberikan oksigen untuk bernafas...dan saya masih diberi waktu oleh-Nya untuk dapat memperbaiki diri...
It's time to change...Inilah saatnya saya untuk berubah....telah banyak kesia-siaan yang telah hamba lakukan...., kita tak pernah tahu kapan Allah akan memanggil kita...beribu cara bahkan berjuta cara kemungkinan penyebabnya....bekal apa yang sudah kita persiapkan....???
Ya Allah Ya Robb...tiada daya dan upaya yang dapat hamba lakukan tanpa Kuasa-Mu...tak ada kemampuan yang dapat hamba lakukan tanpa ridho-Mu...Bimbinglah hamba menuju-Mu...ringankanlah langkah hamba untuk beribadah pada-Mu..Jauhkanlah hamba dari segala yang engkau murkai...amin ya Allah ya Robball 'Alamiin....
Langganan:
Postingan (Atom)